Senin, 27 April 2026

Perjalanan Al-Farlaky, dari Aktivis menjadi Wartawan,  Dewan, dan Kini jadi Bupati Aceh Timur

Iskandar Usman Al-Farlaky lahir pada 3 November 1981, di Gampong Rantau Panjang, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

Tayang:
Editor: Yocerizal
zoom-inlihat foto Perjalanan Al-Farlaky, dari Aktivis menjadi Wartawan,  Dewan, dan Kini jadi Bupati Aceh Timur
Tribunnanggroe.com
BUPATI ACEH TIMUR - Iskandar Usman Al-Farlaky, mantan aktivis, wartawan, anggota dewan, dan kini terpilih menjadi Bupati Aceh Timur. 

SEMINGGU menjelang pelaksaan Pilkada 27 November 2024, seorang eks kombatan GAM di Aceh Besar memprediksi bahwa Pilkada Aceh Timur akan dimenangkan oleh Iskandar Usman Al Farlaky, calon bupati dari Partai Aceh yang maju berpasangan dengan T Zainal Abidin dari Partai Gerindra.

Menurutnya, meski dari sisi logistik, putra Peureulak tersebut mungkin tak sekuat kandidat bupati lain, tetapi ada nilai lebih dari Al-Farlaky yang tak dimiliki lawan-lawannya, yaitu empati. Empati yang kemudian mendatangkan loyalitas tanpa batas dari para pendukungnya.

Iskandar Al-Farlaky dikatakan pria tersebut, merupakan sosok yang selalu peduli terhadap para eks kombatan yang datang menemuinya. Meski mereka yang datang bukan dari tim sukses dan juga bukan berasal dari daerah pemilihan atau daerah yang menjadi basis kekuatannya, mantan dewan tersebut selalu berusaha memberikan sesuatu, minimal sekedar untuk ongkos transport.

"Jarang kita dengar ada eks kombatan yang datang menjumpai dia lalu keluar dengan kecewa. Walau kadang dia marah-marah, tetapi selalu ada yang dia berikan untuk sekedar ongkos pulang,"

"Harapan ini lah, bahwa dia tidak akan melupakan orang-orang yang telah membantunya, yang membuat pendukungnya loyal. Berbeda ceritanya kalau loyal karena uang, itu sifatnya hanya sementara saja," beber mantan kombatan GAM Aceh Besar ini.

Prediksi tersebut terbukti. KIP Aceh Timur tak lama lagi bakal menetapkan Al-Farlaky sebagai Bupati Aceh Timur terpilih untuk periode masa jabatan 2025-2030, menyusul keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilkada Aceh Timur, pada Senin (24/2/2025) kemarin.

Dalam Pilkada 2024 lalu, Al-Farlaky berhasil meraih 75.809 suara, mengungguli tiga pasangan calon kepala daerah lainnya, dengan persentase sebesar 40 persen dari total suara sah.

Baca juga: Islah, Langkah Positif Ketua DPRA dan Wakil Gubernur Menuju Aceh Maju Ta Meuseuraya

Kembali ke cerita eks kombatan GAM Aceh Besar tadi, Iskandar Al-Farlaky memang memiliki empati yang tinggi. Selama menjadi anggota dewan, ia juga rutin menjenguk warga Aceh Timur yang dirawat di RSUZA Banda Aceh. Demikian juga ketika reses ke dapil, Al-Farlaky selalu keliling menjumpai masyarakat, mendengar cerita mereka, menampung harapan, dan berbuat semampu yang dia bisa.

Karena itu, selama dua periode menjabat sebagai Anggota DPRA, nyaris tidak ada uang yang tersimpan di tabungannya. Rumah saja sampai saat ini tidak punya. Selama di Banda Aceh, Iskandar tinggal di komplek dewan, kawasan Ie Masen Kaye Adang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Sementara di Pereulak, ia tinggal di rumah peninggalan mertuanya, sebuah rumah lama yang belum terkena sentuhan renovasi.

Bahkan rumah orang tuanya pun baru terbangun pada akhir periode kedua masa jabatannya sebagai Anggota DPRA. Itu pun hanya berupa rumah sederhana, yang dibangun bersamaan dengan 12 unit rumah kaum duafa yang diusahakannya melalui program pokok-pokok pikiran (pokir) dewan.

Aktivis jadi Wartawan Serambi

Iskandar Usman Al-Farlaky lahir pada 3 November 1981, di Gampong Rantau Panjang, Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Perkenalannya dengan dunia politik dimulai ketika menjadi mahasiswa di UIN Ar Raniry Banda Aceh (dulu IAIN). Saat itu ia aktif menjadi aktivis yang kerap memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan publik.

Alfarlaky juga sempat mencalonkan diri sebagai Presiden Mahasiswa UIN, meskipun akhirnya gagal. Suksesi yang berakhir dengan kerusuhan besar, yang membuat namanya kemudian menjadi cukup terkenal di kalangan mahasiswa UIN kala itu, dan bahkan masih terus diingat hingga hari ini.

Selesai kuliah, tahun 2006 Iskandar bergabung dengan Harian Serambi Indonesia, menjadi wartawan untuk wilayah liputan seputaran Kabupaten Aceh Timur. Tak disangka, 5 tahun menjadi wartawan ternyata menjadi modal besar bagi Iskandar ketika kelak ia memutuskan terjun ke dunia politik praktis.

Baca juga: VIDEO - Viral Detik-detik Gibran Tepis Tangan Paspampres yang Cegah Kakek Pegang Pundak Wapres

Selama menjadi wartawan, Iskandar melalui liputannya, sangat banyak membantu masyarakat Aceh Timur. Dia juga secara rutin membagi-bagikan daging meugang yang dia peroleh, yang kemudian dia antar langsung menggunakan sepeda motor Supra Fix warna hijau miliknya ke rumah-rumah warga yang membutuhkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved