Selasa, 19 Mei 2026

Jamaah Islamiyah Minta Maaf ke Negara dan Masyarakat Indonesia 

JI perlu meminta maaf karena aksi teror mereka membuat negara kewalahan dan merugikan banyak pihak.

Tayang:
Editor: Yocerizal
zoom-inlihat foto Jamaah Islamiyah Minta Maaf ke Negara dan Masyarakat Indonesia 
Kompas.com
Para Wijayanto (kiri) dan Abu Rusydan (kanan) dalam wawancara eksklusif bersama Kompas di Jakarta, Senin (16/9/2024). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA) 

"Artinya dengan tulus hati kita minta maaf atas nama organisasi Al Jamaah Islamiyah," kata Para Wijayanto. 

Baca juga: Suami Istri di Banda Aceh Dilantik jadi Anggota Dewan dari Dapil Berbeda

Sadar perbuatannya salah Wijayanto mengungkapkan, JI menyadari publik mencela aksi teror yang mereka lakukan. 

Bahkan, menurutnya, JI sendiri tidak bisa menemukan dasar syar'i dari tindakan-tindakan seperti pengeboman dan mutilasi yang mereka lakukan. 

"Kita melihat ini dicela (pelakunya). Oh ternyata dari publik itu mencela. Bahkan kita sendiri pun tidak menemukan dasarnya,"

"Kalau ditanya kenapa sampai terjadi mutilasi? Apa dasar syar'i-nya? Kebingungan, enggak bisa menjawab. Artinya kita sendiri juga ikut mencela itu. Merasa bahwa perbuatan itu tidak... Bukan perbuatan yang terpuji," jelas Para Wijayanto.

Ia menegaskan bahwa JI kini telah mengevaluasi perbuatan mereka dan meminta maaf secara tulus dari lubuk hati yang paling dalam. 

Ingin gabung dengan ormas Islam 

Para Wijayanto berharap organisasi masyarakat (ormas) Islam di Indonesia bisa menerima mantan anggota JI yang ingin bergabung. 

"Jadi dari kami harapannya, berharap dari semua pihak, semua organisasi yang ada di Indonesia ini, yang bersifat ke-Islam-an, bisa menerima eks anggota JI, bisa ikut membantu dalam proses integrasi eks anggota JI ini," ujar Para Wijayanto. 

Baca juga: Miris, Pelajar di Aceh Tengah Ujian dari Atas Pohon, di Jalanan, dan di Bawah Rintik Hujan

Menurutnya, mantan anggota JI memiliki potensi yang perlu disalurkan melalui ormas-ormas Islam. Dia pun menegaskan niat mereka tulus. 

Jika ada oknum yang bertindak berbeda, kata Para Wijayanto, itu bukan representasi JI. 

"Kalau ada orang yang mengatasnamakan JI ya itu namanya oknum," ucapnya. 

"Kita berharap sisa hidup kita bisa kita gunakan untuk beramal soleh,"

"Makanya kita berharap semua pihak ikut membantu proses integrasi ini, sehingga betul-betul menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia, bagi negeri yang kita cintai ini, dan kita siap membela NKRI," jelas Para Wijayanto.

Abu Rusydan juga menambahkan bahwa mantan anggota JI bebas bergabung dengan organisasi seperti Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama (NU).

Asalkan tidak terlibat dalam kegiatan ilegal seperti pelatihan sembunyi-sembunyi atau aksi intelijen yang bisa melanggar hukum. 

"Terserah mereka mau bergabung dengan Muhammadiyah, NU, Persis, atau mereka mendirikan kelompok sendiri, tidak ada masalah," papar Abu Rusydan.(*)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved