Senin, 18 Mei 2026

Mengenal Sekte Alawiyyin yang Dianut Bashar al-Assad

Silakan cek sendiri, apa itu aliran Alawiyyin atau Nushairiyin. Mereka bukan Sunni, bukan Syiah. Mereka nonmuslim.

Tayang:
Editor: Yocerizal
zoom-inlihat foto Mengenal Sekte Alawiyyin yang Dianut Bashar al-Assad
AFP
Bashar al-Assad saat kembali terpilih menjadi Presiden Suriah dengan perolehan 95,1 persen suara dalam Pilpres Suriah, pada Rabu, 26 Mei 2021. (AFP/Louai Beshara) 

TRIBUNNANGGROE.COM - Syech Muhammad Al Fuli, seorang warga Mesir yang kini menetap di Indonesia, mengungkapkan bahwa mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad merupakan seorang nonmuslim.

Disebutkannya, Bashar merupakan penganut sekte Alawiyyin atau Nushairiyin. Bukan Sunni ataupun Syiah. Penganut sekte ini  tidak percaya pada Allah subhanahu wa ta'ala.

"Mereka nonmuslim. Mereka tidak percaya pada Allah subhanahu wa ta'ala," kata Al Fuli di akun TikToknya.

"Silakan cek sendiri, apa itu aliran Alawiyyin atau Nushairiyin. Mereka bukan Sunni, bukan Syiah. Mereka nonmuslim," ungkap pria pemilik nama lengkap Mohamed Ali Gilal El Fouly

Lalu apa sebenarnya Sekte Alawiyyin ini? Sebelum mengulas hal ini, sedikit melihat ke belakang, di awal bangkitnya rezim al-Assad.

Dilansir dari NDTV, Hafez Al-Assad (ayah dari Bashar al-Assad) naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada 13 November 1970, menandai dimulainya era baru di Suriah. 

Saat itu, Suriah diwarnai oleh ketidakstabilan politik, dengan serangkaian kudeta yang mendominasi sejarah pascakemerdekaannya. 

Hafez adalah anggota minoritas Alawi. Ia membangun basis kekuatannya sebagai komandan Angkatan Udara Suriah dan menteri pertahanan. 

Baca juga: Siapa Bashar al-Assad? Ini Penjelasan Syech Al Fuli, Warga Mesir yang Kini Menetap di Indonesia

Pada saat ia merebut kekuasaan, ia telah membangun jaringan yang loyal di dalam militer dan Partai Ba'ath. 

Untuk memperkuat rezimnya, Hafez mengangkat minoritas penganut Alawi, yang secara tradisional merupakan kelompok terpinggirkan, ke posisi kekuasaan di militer dan pemerintahan. 

Pada saat yang sama, ia memanipulasi garis-garis patahan sektarian dan suku di Suriah untuk menetralisir potensi ancaman, memastikan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang dapat menantang otoritasnya.

Alawi Muncul Sejak 1946

Setelah Suriah merdeka pada 1946, komunitas Alawi muncul sebagai kekuatan penting dalam dua bidang utama, yaitu gerakan politik dan angkatan bersenjata. 

Pergeseran ini menandai perubahan dari status mereka yang secara historis terpinggirkan, karena komunitas Alawi mulai menegaskan pengaruhnya dalam struktur kekuasaan Suriah yang terus berkembang.

Penganut Alawi di Suriah berjumlah hanya 12-15 persen dari populasi sebelum perang. Komunitas ini telah menjadi pendukung utama rezim Assad.

Penganut Alawi, meski tidak menganut ajaran Syiah, memuja Ali bin Abi Thalib, tokoh sentral Islam Syiah. 

Kaum Alawi berhasil selamat dari penganiayaan dan Perang Salib hingga bangkit ke puncak dan mengambil alih kekuasaan Suriah.

Baca juga: Begini Cara Mengaktifkan Fitur Meta AI di WhatsApp dan Kegunaannya

Menurut BBC, kelompok Alawi menjalankan ritual berbeda dengan Muslim. Mereka merayakan Natal dan tahun baru Zoroaster.

Kaum Alawi dipandang oleh kaum Muslim lain di Timur Tengah sebagai kaum yang sangat liberal atau bahkan sekuler. 

Di Suriah, kaum wanita tidak dianjurkan mengenakan jilbab dan banyak yang memilih untuk tidak berpuasa atau shalat. Sebagian Muslim menganggap kaum Alawi sebagai sekte sesat.

Nusairisme, sebutan asli Alawisme, muncul pada abad ke-9 dan ke-10 di Suriah. Kata Alawite, atau Alawi berarti "pengikut Ali", yang merupakan sepupu dan menantu Nabi Muhammad.

Memuja Imam Ali 

Umat Muslim Syiah juga memuja Imam Ali dan seperti kaum Alawi. Mereka  meyakini bahwa Imam Ali adalah pewaris sejati Nabi dan seharusnya menggantikannya.

Anggapan bahwa kaum Alawi menganggap Ali sebagai dewa atau Tuhan dalam wujud manusia adalah hal yang memancing rasa jijik dari sebagian Muslim Sunni ortodoks. 

Mereka menganggap gagasan Alawi tentang Ali sebagai ajaran sesat dan menantang kepercayaan mendasar bahwa hanya ada satu manifestasi Tuhan yang tidak terbantahkan.

Di samping prinsip utama Islam, kaum Alawi juga mengamalkan dua prinsip lainnya, yaitu 'jihad' atau perjuangan dan 'waliya', pengabdian kepada Imam Ali dan keluarganya. 

Secara tradisional, banyak praktik Alawi dilakukan secara rahasia, sejalan dengan kebiasaan Syiah Taqiyya, yaitu praktik menyembunyikan keyakinan seseorang untuk menghindari penganiayaan.

Baca juga: Pemukulan Perempuan di Bener Meriah Viral di Medsos, Pemilik Video Ceritakan Kronologisnya

Penganut Alawi di Suriah terkonsentrasi terutama di pesisir Laut Tengah negara itu, di kota pelabuhan Latakia dan Tartous, menyebar ke utara melintasi perbatasan Turki ke provinsi Hatay dan ke selatan ke Lebanon utara.

Ajaran Menyimpang

Mengutip dari Suaraislam.id, sebutan lain dari kaum Alawiyyin adalah Nushairiyyah. Istilah Alawiyyin baru muncul belakangan. 

Berawal dari penjajah Prancis menamakan orang-orang Nushairiyyah di Suriah dengan sebutan “Alawiyyin” untuk mengelabuhi dan menutupi hakikat mereka yang sebenarnya. 

Di beberapa kawasan Turki dan Albania, mereka dikenal dengan sebutan 'Baktasyiah'. Sementara di Turkistan, dikenal dengan nama 'Ula Ilahiyah'.

Nushairiyyah diambil dari nama Muhammad bin Nashir al-Bashari. Ia adalah tangan kanan Hasan al-Askari, imam Syiah yang ke-11. 

Pascawafatnya Hasan, Nashir menyerahkan jabatan Imam ke anak Hasan, tetapi kemudian ia tidak mau mengakui Hasan dan anaknya sebagai imam. 

Ia malah mendakwahkan bahwa dirinyalah imam, kemudian ia mengaku sebagai Nabi bahkan sebagai Tuhan.

Baca juga: Lagi, Oknum Guru SD di Subulussalam Cabuli Belasan Anak Didiknya

Muhammad Asy-Syakkah di bukunya ‘Islam Tidak Bermazhab’, menyebutkan, dari aspek aqidah, sebagian pengikut Alawiyyin condong ke sikap ghuluw dan menyimpang.

Misalnya menjadikan taqiyyah sebagai bagian dari aqidah mereka. 

Selain itu ada dari mereka yang menyimpang punya anggapan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji punya makna lahir dan makna batin. 

Padahal Islam bukanlah agama yang rumit dan mengandung sisi batiniyyah.

Di samping itu, Syiah Alawiyyin punya pendapat fikih (fatwa) yang sebagian besar berbeda jauh dengan Ahlu Sunnah.

Di antaranya, anak perempuan tidak akan mendapat bagian warisan jika ia memiliki saudara laki-laki. 

Mengharamkan makan daging kelinci, unta dan semua hewan betina yang mengeluarkan darah haid. 

Dan yang paling aneh adalah anak-anak tidak diperkenankan belajar agama sebelum mencapai umur 15 tahun. Entah apa maksud dibalik larangan tersebut.(*)

Baca juga: Menhut Raja Juli Antoni akan ke Aceh, Tinjau 20.000 Lahan yang Dihibahkan Prabowo

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved